Gagal Lari Tapi Senang

Ceritanya kami mau lari, tapi hujan lagi deras-derasnya di jam kami pulang kerja. Berhubung sudah lama tidak bersua dan bercerita, akhirnya kami lari-lari dari kenyataan di dalam food court sebuah mall di bilangan Senayan, sambil makan Doner Kebab. Favorit saya paket Doner 1 dengan daging domba. Ya, saya pecinta domba. Tapi tidak suka dengan serigala berbulu domba. Entah kalimat barusan maksudnya apa. Semoga pertemuan selanjutnya olahraga larinya terlaksana. Tapi saya tidak menolak momen-momen makan bersama dan tertawa menggila.  Continue reading “Gagal Lari Tapi Senang”

Lupa Ingatan, Tidak Lupa Kenangan

Kenangan memang bukan hafalan. Kenangan selalu saja tak terduga. Yang membahayakan dari kenangan, dia bisa datang kapan saja, semau-maunya. Berbeda dengan hafalan yang sepenuhnya dikendalikan kekuatan pikiran si penghafal, kenangan tak bisa diperlakukan demikian. Kenangan bukan benda yang bisa dipermainkan dan bisa dipanggil pulang kapan saja. Kenangan bergerak dengan caranya sendiri, semacam rumput liar yang tak pernah diinginkan.

Ada batas yang agak sumir antara ingatan dan kenangan. Kadang kala keduanya tak bisa dibedakan, kadang kala ingatan dan kenangan saling menelikung, saling memunggungi, tapi kadang keduanya juga saling melanjutkan satu sama lain.

Jika kenangan sudah memperlihatkan diri, tak ada yang bisa menampiknya. Satu picu kenangan meletup, maka bermunculanlah kenangan-kenangan lainnya, saling bertaut satu sama lain berpilin sedemikian rupa. Kenangan menghadirkan masa silam sebagai sebuah keutuhan dalam sekejap.

Kita bisa mengendalikan ingatan. Makanya kita kenal dengan proses menghafal. Tapi kenangan sebaliknya; justru kenangan yang mengendalikan kita. Makanya ada istilah “lupa ingatan”, tapi tak pernah ada istilah “lupa kenangan”. Sebab kenangan itu melampaui lupa.

Zen RS