Movie Review : The Lovely Bones

Kemaren, pas lagi liat-liat jadwal film di Platinum XXI fX Plaza, yang lagi tayang adalah When in Rome, The Lovely Bones, Clash of the Titans, sama Remember Me. Dan pada awalnya nggak terbesit di otak gw dan Amanda buat nonton, karena emang tujuan kita kesana adalah buat beli tiket Festival Sinema Perancis. Tiba-tiba Amanda bilang,

“Mau gila nggak? Nonton yuk!”

…………………………

Wah yang gila kayaknya dia ya, wong dia lagi sakit pilek gitu malah ngajak nonton hahahaaa. Tapi gw juga lagi pengen nonton, padahal Sabtu kemaren gw juga abis nonton hihi. Akhirnya pilihan film jatuh pada The Lovely Bones. Apa yang gw suka dari Platinum XXI fX Plaza adalah tempatnya enak dan harga tiketnya juga murah, baik untuk weekdays maupun weekend. Dan please banget buat pengelola XXI atau yang punya fX, tolong jangan dinaikkan harganya! Gw udah puas banget dengan harga dan suasana tempatnya yang nyaman 😀

Dan inilah review dari The Lovely Bones.

Diadaptasi dari novel karangam Alice Sebold, film ini bercerita tentang anak remaja umur 14 tahun, Susie Salmon, yang tinggal di lingkungan rumah yang menyenangkan, mempunyai orangtua dan adik-adik yang baik, senang mengambil gambar serta aktif dalam klub film. Terkadang memang ada masalah tapi wajarlah untuk remaja seumuran Susie. Susie juga punya secret crush di sekolah, yang udah diperhatiin dari dulu. Disini diceritakan tentang Susie yang udah meninggal, hidup di antara dunia nyata dan dunia surga. Ceritanya dia mau nyeberang ke surga tapi dia juga harus ngebantuin orang-orang terdekatnya klo dia mati dibunuh sama tetangganya.

Cukup segitu aja reviewnya. Belajar dari blog-blog sebelumnya yang kalo nge-review film jatohnya kepanjangan dan gw spoiler abis dengan cerita film dari awal sampe akhir. Jujur aja gw kira film ini bagus sekali, ternyata nggak juga. Gw sempet ber-anjing-anjing ria selama film diputer, soalnya gregetan sama cerita dan terutama, ending filmnya. Dan gw sama Amanda pun sepakat kalo film ini aneh, dan kita berdua jadi nggak tau genre film macam apa yang barusan kita tonton. Dan dari gw pribadi sih, film ini tidak recommended. Gw cukup kecewa karena promosinya juga sempet gede-gedean ditambah bukunya pun jadi best seller 😦 

Dan gw nggak nyangka aja Peter Jackson, sang sutradara (yang juga sutradara film trilogi Lord of the Rings), mau bikin film kayak gini. Sangat amat disayangkan 😦 

Tapi sisi positif dari film ini adalah gw suka sama penampakan surga yang digambarkan di film ini. Kok kayaknya enak banget tinggal di surga, jadi pengen cepet-cepet masuk surga. Amieeen 😀

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s