Movie Review : Toy Story 3

Sabtu belum lama ini (masih di bulan Juli kalo nggak salah), gw nonton Toy Story 3. Well, sebelumnya nggak terlintas di otak gw untuk nonton film ini, tapi berhubung ada ajakan ya gw iyakan saja šŸ˜› And YES, I’M A MOVIE GEEK, BABY šŸ˜€

Berhubung Toy Story 3 udah mulai terbatas penayangannya, satu-satunya bioskop yang available menayangkan Toy Story 3 (bukan 3D) adanya di XXI Pluit, 21 Blok M, sama Blitz Central Park. Dan pilihan pun jatuh ke Blitz Central Park, selain karena gw belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di Blitz Central Park, lokasinya juga terjangkau dari rumah šŸ˜€

Tadinya mau nonton yang jam tayangnya 19.30, tapi karena satu dan lain hal, gw dapetnya yang jam tayang 21.45. Glek! Waktu itu gw komat-kamit nggak karuan supaya nggak ketiduran selama film berlangsung. Lumayan malem juga sih, tapi rekor nonton gw paling malem ya pas midnight. Gw berhasil pulang jam 3 pagi tanpa ketauan orang rumah hehehe, pardon me, people šŸ˜›Ā 

Review sedikit tentang Central Park, sebagaimana kita semua tahu, Central Park masih sepi. Belum banyak toko yang dibuka. Tahun depan kali baru ramenya. Mungkin tahun depan Central Park bakal saingan abis-abisan sama mall besar seperti Pacific Place, Grand Indonesia, Pondok Indah Mall 2, atau Senayan City. Oiya, kalo dateng ke Central Park, jangan lupa jalan-jalan di tamannya yah. Itu loh, yang posisinya ada di deket lobby. It is not much but I think it’s good. Dan satu hal yang menarik gw untuk balik lagi ke Central Park adalah restoran Sushi Tei-nya. Sebelumnya Sushi Tei Plaza Indonesia adalah resto favorit Sushi Tei gw yang pertama. Kali ini di urutan kedua ditempati oleh Sushi Tei Central Park. Table-nya menarik, apalagi posisi table yang menghadap kaca. Kita bisa liat langsung pemandangan sepanjang jalan Letjen S. Parman. Satu yang gw nggak suka dari Sushi Tei Central Park, yaitu sushi bar-nya. Terlalu menjorok ke dapur, jadi kita bisa liat suasana dapurnya banget. Unlike other Sushi Tei resto, IMHO yang ini keliatan banget, jadi agak sedikit kurang nyaman.

Maaf kalo tiba-tiba pembicaraan jadi out of topic gini šŸ˜›

Setelah selesai makan, langsung ngacir ke Blitz. Begitu naik eskalator, langsung masuk ke lorong gelap. Cukup gelap mengingat gw belum pake kacamata waktu itu. Gelapnya bukan gelap yang bikin nyaman yah, IMHO gelapnya kayak di luar angkasa, like I was stranded in the spaceship land. Begitu masuk ke ruangan bioskopnya, kursinya kurang begitu nyaman. But I came there for the movie, not for the chair šŸ˜€

Kalo boleh jujur, gw nggak ngikutin cerita Toy Story dari film pertamanya. Dulu sempet main game Toy Story 2, itu pun gw nggak nangkep jalan ceritanya (dan nggak tamat pula mainnya). Dan ketakutan terbesar gw adalah kalo Toy Story 3 ini merupakan kelanjutan dari film Toy Story sebelumnya. Tapi alhamdulillah ternyata tidak (legaaaaa).

Film dibuka dengan kenangan masa kecil Andy, sang empunya mainan; Woody, Buzz, Jessie, Mr dan Mrs Potatoes, Rex, Slinky Dog dan Hamm. Andy akhirnya berusia 17 tahun, dewasa, dan siap masuk universitas. Nasib mainan-mainan Andy semakin tidak jelas sampai suatu hari secara tidak sengaja Woody dan kawan-kawan disumbangkan ke tempat penampungan anak, Sunnyside Daycare. Semula Sunnyside dikira tempat yang menyenangkan ternyata berubah menjadi petaka pada Woody dan kawan-kawan. Woody yang berhasil kabur dari Sunnyside berusaha menyelamatkan teman-temannya yang masih terjebak di Sunnyside bersama dengan Lotso si beruang pink yang ramah tapi licik, dan berusaha kembali ke rumah Andy.

Filmnya bagus dan menghibur, meskipun gw di awal film sempet bertanya-tanya, “Ini maksudnya apa? Itu maksudnya apa?”. Tapi semua itu terjawab kok pada akhirnya. Yang bikin gemes itu mainan-mainannya. Sayang aja gw udah nggak tertarik koleksi mainan hehe. Ending filmnya cukup mengharukan, dimana Andy memberikan semua mainannya untuk seseorang yang lebih membutuhkan dan pasti akan merawatnya. Film ini sempet bikin gw mewek beberapa saat, tapi berhubung tayangnya malem banget jadi agak samar-samar sama ngantuknya gw. Sedih. Dan inti dari film ini yang bisa gw petik sedikit adalah ada kalanya kita harus merelakan apa yang menjadi milik kita untuk orang yang lebih membutuhkan šŸ™‚

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s