My Love & Hate Relationship With Motor

Judulnya asik yah.. Ngehehehehe.. Apa sik Nadya nih? Ngihihi.. Anyway, tiba-tiba aja kepikiran untuk sharing tentang kisah cinta dan benci yang gw alami dengan motor *duileee mentok nih ye cintenye..*. Kalo mau dipersentasekan seberapa cinta dan benci-nya sama sama motor, kira-kira 70% cinta 30%-nya benci *since I’m a biker too of course*. Gw yakin jumlah kendaraan bermotor yang ada di Indonesia ada sekitar puluhan juta, dan pengguna motor yang ada pasti lebih dari 50% dari jumlah tersebut, ditambah dengan mobil dan angkutan umum tentunya. Dan jumlah itu akan terus bertambah setiap hari seiring dengan tumbuhnya industri otomotif *kalo si Bapak yang kebetulan karyawan salah satu perusahaan otomotif bilang, “Kamu dulu makan darimana kalo pabrik otomotif nggak jalan?” — Nggih, ampun Kanjeng Sultan!!*. Tapi berasa banget kan tiap hari mau berangkat sekolah atau ngantor macet dimana-mana, apalagi kalo pake banjir? Cihh, pasti langsung mati kutu. I feel you, people, I feel you. But IMHO, sometimes one of the easiest ways to get out of traffic is using motorbike *or just bike (bagi yang doyan sepedaan), atau naik baling-baling bambunya Doraemon – ZZZzz.. Krik krik krik*. 

Sebelumnya gw bukanlah pengguna motor, tapi berhubung the only fastest way I could get to some places was by motorbike, so I had no other choice. Kecintaan gw akan motor terletak pada kecepatannya *biarpun belum bisa disamakan dengan kecepatan mobil tapi at least lebih cepat daripada bajaj*. Cepat, bentuknya lebih ramping dari mobil dan bajaj, dan lumayan hemat bahan bakar. Tapi kombinasi dari kecepatan dan rampingnya motor ini sering dipermasalahkan oleh banyak pengguna jalan, terutama pengendara mobil *oh yeah, I know you’re feeling it*. Gw yakin kalian pasti kesel banget dong sama si pengendara roda dua yang seenaknya selonong-boy pas lagi macet-macetan, trus dengan gampangnya nyalip tanpa prediksi body-nya muat atau nggak. Hmm, I’m so feeling you all.. Dan parahnya, kalo udah nyenggol mobil, sempet bikin baret sekitar 5 cm-an lah ya, mending kalo sempet dadah-dadah minta maaf, tapi 90% sang jagoan roda dua langsung menghilang tanpa jejak. Such a bad day, isn’t it? 

Tapi sebagai pengemudi motor, gw juga mengalami ketidaknyamanan yang tidak dialami oleh masyarakat yang tidak menggunakannya. Gw nggak bisa tuh yang namanya ngadem pas lagi macet plus panas mentereng ataupun berteduh dari siraman hujan lebat. Tingkat kecelakaan pengendara roda dua pun lebih tinggi daripada kendaraan beroda lainnya, ditambah resiko lumpuh atau kematiannya juga tinggi karena pelindungnya hanya ada di kepala. Dan terkadang ada diskriminasi di tempat-tempat tertentu yang IMHO agak intolerable. Salah satunya adalah minimnya fasilitas parkiran motor di beberapa spot publik. Suka sedih deh kalo lagi pergi ke tempat-tempat yang memang rada ‘eksklusif‘, tapi parkirannya jauh entah dimana atau malah nggak ada sama sekali. Tiga spot favorit gw di Senayan lumayan bikin naik darah turun eek. Waktu pertama kali ke fX naik motor, pas mau masuk langsung dihadang dengan plang besar bertuliskan ‘MOTOR DILARANG MASUK‘. Karena nggak tau harus parkir dimana, gw parkir di PS dan mau nggak mau harus bolak balik jalan kaki pulang dan perginya. Dan gw baru tahu parkir motor pengunjung fX dialihkan ke belakang Hotel Atlet Century atau ke gedung kantor di sebelah fX yang diberlakukan syarat tertentu. Semula gw merasa parkir motor di Plaza Senayan atau Senayan City jauh lebih baik daripada di fX. Tapi ternyata nggak juga. Suatu hari gw berkunjung ke PS di hari biasa dan di jam nanggung orang pulang kantor, begitu sudah masuk ke parkir dihadang dengan plang bertuliskan, ‘PEMBERLAKUAN JAM PARKIR KHUSUS MEMBER PLAZA SENAYAN‘. Jadi yang bisa masuk ke PS di jam-jam tertentu hanya pengemudi motor yang notabene adalah pegawai PS atau gedung Sentral Senayan 1-2-3. Dan mau nggak mau waktu itu parkir di Senayan City yang hanya menyediakan lahan parkir untuk motor sekitar 10m x 10m *di basement itu khusus untuk pegawai Senayan City*, yang mana kalo lagi overload parkirannya ditutup dan dialihkan ke parkiran motor basement. Hal serupa juga gw temukan di kawasan SCBD dan beberapa gedung perkantoran di daerah Jalan MH. Thamrin – Jend. Sudirman. Hayooo pengelola gedung sekalian, would you reconstruct these parking lots? 😀 

I gotta admit that most of us bikers are a total jackass. We break the rules over and over again, and we often harm the other road users. Gw sendiri sebagai salah satu pengendara motor merasa sangat kecewa dengan sikap mayoritas ‘kaum‘ gw yang memang brutal. Gw tau nggak sedikit orang yang menghujat pengendara roda dua seperti kami. Bahkan sosialisasi dan peraturan yang diberlakukan pemerintah tidak cukup untuk membuat kami jera. IMHO, kalo ada koordinasi yang baik antara emosi sang pengendara roda dua dan infrastruktur publik yang memadai *contohnya parkiran*, we bikers probably make things easier. But I think it’s more of our ego to control the mental hehe 😀 I’m not blaming on some institutions though but IMHO, we bikers should use a little bit of our hearts more than our minds on the road. Are you with me? 😀

1 thought on “My Love & Hate Relationship With Motor”

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s