Morning Coffee Talk, Random Dinner & Random Awesome Story

Last weekend was one of the best weekend I’ve ever had. Biarpun Sabtu paginya gw disibukkan dengan urusan rumah dan yang lainnya, I still managed to meet Matt. Berawal dari minta temenin bayar tagihan telepon *yang ternyata tagihannya belom keluar*, sampai akhirnya kami memutuskan untuk ngemil-ngemil unyu. Berdalih ingin sarapan, tapi apa daya segelas frappucino lah yang menjadi teman setia untuk bersenda gurau bersama dengan sahabat gw ini. Early happy feeling on Saturday morning! 😀

Udah lama gw nggak nongkrong sambil cekakak inget-inget masa lalu. Saking senengnya sampe lupa udah waktunya makan siang. Dan pulanglah kami ke rumah Matt *berhubung motor dititip disitu*. Sampai di rumahnya, langsung selonjoran di kasurnya, dan DOR! Gw nggak mau pulang, sodara-sodara. Kebiasaan kalo udah main keluar rumah, saking nyamannya itu sampe bikin ogah pulang. Tunggu beberapa menit lagi deh baru cabut pulang. Dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, berhubung gw belum mandi jadi harus segera pulang. 

Yak, benar sekali sodara-sodara, gw belom mandi dari pagi. *peace* 

My Saturday night went really good. I went out for dinner in Cikini. It was a fun Saturday night 🙂 

Minggu paginya gw ikutan jemput ibunya Ardi yang abis dinas di bandara. Sepanjang perjalanan pulang sampai di rumahnya, Bu Yanti nggak berhenti menceritakan serunya business trip sendirian. Ada satu pesan bagus yang bisa diambil dari ceritanya kali ini. Oh ya by the way, she’s a very nice person, and a good story-teller. That’s why I never get bored chatting with her, feels like talking to one of my best friends. Dan pesannya kali ini adalah, “If you want to meet God, go into a place you haven’t been before”. Kenapa beliau bisa bilang begitu? Begini ceritanya.. 

Ibu Yanti ditugaskan ke Lyon, Perancis. It’s her first time business trip alone by herself. She said she ‘met’ God almost 4 times along the trip. Pertama adalah ketika Bu Yanti baru nyampe di Charles de Gaulle. Sebagaimana layaknya bandara, pasti ada proses pengecekan. Bu Yanti agak terhambat di proses pengecekan paspor. Harusnya sih nggak ada masalah, but she had to stay a little bit longer. Dalem hati Bu Yanti was-was, “Aku kenapa ya? Dokumenku ada yang kurang? Apa karena aku pakai hijab? Duh Gusti Allah, lindungi hamba-Mu ini.. Aku sendirian tak punya kerabat di negara ini..”. She kept talking to God in her heart and suddenly a very nice guard came and said, “What’s going on here? She’s fine, she’s not a criminal. Sorry for your disturbance, Ma’am. You can go now..”. Wuih! Bu Yanti langsung lega seketika alhamdulillah..

Dari Charles de Gaulle, Bu Yanti langsung naik kereta menuju Lyon. Lyon itu kota yang lumayan kecil di Perancis tetapi cukup maju dan terkenal karena merupakan pusat perbankan di Perancis. Katanya Bu Yanti, arsitektur dan tata kotanya bagus sekali. One of a must-visit town in the world. Iya deh, Bu.. Nanti yah, kalo udah siap tabungannya.. Anyway, balik maning nang cerita.. Akhirnya Bu Yanti sampe juga di Lyon, tapi sebelum pergi ke hotel tempat beliau singgah, Bu Yanti harus ketemu sama anak teman baiknya, Wika namanya *kalo gw nggak salah denger yah, maap loh Bu kalo aku salah sebut nama*. Tapi Bu Yanti yang cukup lama menunggu pun akhirnya was-was kembali, kok Wika tak kunjung nongol batang ekornya? Apalagi stasiun kereta Lyon lumayan gede. Bukannya gampang nyari Wika yang notabene berwajah Asia malah susah juga. Karena kebetulan Bu Yanti datengnya pas hari kerja, lalu lalang di area publik lumayan padat. Beliau terus ngebatin, “Ya Tuhan, aku sendirian di kota ini. Wika ini satu-satunya orang yang bisa aku harapkan. Tolong pertemukan kami, ya Tuhan..”. Then suddenly she met Wika. Alhamdulillah, akhirnya.. 

Kebetulan tempat urusan kerjanya Bu Yanti nggak jauh dari hotel tempat beliau tinggal. Alhamdulillah, setelah semua urusan kerjanya lancar, Bu Yanti took a day off jalan-jalan keliling Lyon dan beberapa tempat di Perancis ditemani Wika dan pacarnya. Selesai jalan-jalan dan membeli buah tangan, Bu Yanti harus berpisah dengan Wika di salah satu stasiun kereta pukul 1 malam waktu Perancis. Wika sedetail mungkin menjelaskan ke Bu Yanti harus naik apa untuk sampai ke hotelnya. “Kalo ibu naik kereta nanti turun di stasiun XXX, itu ada rutenya + jam lewatnya. Tapi kalo ibu ngerasa kelamaan nunggunya, ibu naik taksi aja. Bilang aja ‘AIUEO’ (sambil nunjukkin cara pronounce dalam bahasa Perancis)”. Waduh! Bu Yanti jiper banget katanya. Udah hampir pagi, suasana stasiun pun udah sepi, cuma ada beberapa orang asing yang kalo menurut Bu Yanti adalah orang ‘kurang’ bener. Kalo ada wanita yang masih lalu lalang di atas jam 12 malam di Perancis dianggap orang ‘kurang’ bener juga katanya. Dan 8 menit waktu menunggu kereta selanjutnya terasa lama bagi Bu Yanti. Then she talked to God again in her heart, “Ya Tuhan, mengapa 8 menit ini terasa lama sekali? Aku baiknya pulang dengan kereta atau taksi? Lindungi aku di hari terakhirku di kota ini, ya Tuhan..”. Dan akhirnya Bu Yanti memutuskan untuk pulang ke hotel naik taksi. Alhamdulillah, Bu Yanti sampai dengan selamat di hotelnya.. 

Selesai packing, Bu Yanti kembali ke bandara Charles de Gaulle. Setelah cek en ricek barang pun selesai, akhirnya Bu Yanti menempuh lebih dari 15 jam perjalanan dari Paris menuju Singapura *transit sebentar* sampai akhirnya kembali ke tanah air. Sampai di Singapura, Bu Yanti ketemu sama TKW yang baru pulang dari tanah Arab. Dari kejauhan, si TKI ini udah menunjukkan gelagat rame alias hebring, karena si TKW ini teriak-teriak dalam bahasa Indonesia ke arah petugas Changi sambil melambaikan paspor miliknya. Begitu naik pesawat, betapa kagetnya Bu Yanti mendapati beliau satu row kursinya dengan si TKW. “Ya Tuhan, lindungi diriku..”, begitu katanya dalam hati. Dan memang TKW ini cukup rame orangnya. Karena mendapat Bu Yanti berasal dari tanah Jawa, TKW ini mulai membuka diri dengan beberapa cerita bagaimana kehidupannya di Saudi Arabia, how she survived from her rude boss, and what she will do when she arrives at home. Cerita hidupnya lumayan membuat yang mendengarnya jadi prihatin. Disiksa majikan, tidak digaji, tidak mendapat keadilan, ditinggal suami, dan nggak tau harus kerja apa untuk menghidupi anaknya yang masih kecil. Bu Yanti yang mendengarkan jadi ikutan prihatin. So, she told this TKW to keep fighting for her kid, no matter how suck her life is. Be strong yah, mbak TKW 😀

Dan tanpa sadar, 4 jilid cerita Bu Yanti tentang ‘bertemu’ Tuhan bikin gw lupa waktu dan lupa diri. Harusnya gw pulang dari jam 1 siang, malah molor sampai hampir jam 5. Hahahaha nggak tau diri bener yeh.. Sungkem dulu yah Bu :mrgreen: Terima kasih untuk ceritanya yang sangat berkesan. See you again very soon. Aku pamit pulang dulu, karena seharian belum mandi. 

(-__________-)  

*semoga Bu Yanti nggak ketemu Tuhan jilid 5 gara-gara gw, amin!*

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s