Wedding Excitement

Entah sejak kapan saya menggilai tetek bengek pernikahan, tapi bukan dikarenakan saya sudah punya pasangan. Sebelum punya pasangan pun juga udah excited, puncaknya ketika kakakku yang pertama melangsungkan pernikahan. Dan sekarang euphoria tetek bengek pernikahan di dalam diri saya semakin menggebu-gebu. Bukan karena saya akan segera dipersunting, melainkan karena sedang terlibat dan dikelilingi oleh pernikahan beberapa kerabat dekat :mrgreen:

Karena saya seneng browsing internet, daripada saya buka-buka majalah yang membahas tetek bengek pernikahan, lebih suka baca pengalaman random yang ditulis beberapa orang di dunia maya. Dari situ saya sering dapet banyak gambaran, ternyata mengurus tetek bengek pernikahan itu tak semudah melakukan sunah rosul 😆 Rasanya sih kayak naik roller coaster katanya. Seneng dengan vendor X, sebel sama vendor Y, bla bla bla.. Dan saya berusaha mengingat kembali momen-momen ketika kakakku dulu menggelar resepsi yang nggak cuma sekali diadakannya 😯

Saya abis cekakakan baca blog salah satu bridezilla, inipun taunya dari blog-nya Selly. Hahaha kocak banget cerita di balik persiapan pernikahan dan kehidupan baru setelahnya. Saya jadi punya bayangan sendiri, what my dream wedding looks like *termasuk tipe perfeksionis* dan jadi bridezilla kayak gimana saya nantinya. Saya juga sering debat dengan beberapa teman soal konsep pernikahan yang (kira-kira menurut kami) ideal. Banyak hal yang harus dipikirkan ternyata, nggak cuma soal ngurus soal administrasi KUA, catering, dekor dan kebaya, but it’s a lot beyond. Ngeliat capeknya enyak babeh saya dulu menikahi anak-anaknya plus sekarang si ibu baik hati yang sebentar lagi melepas putrinya, a big question just popped in mind,

“Do we really need to ride this roller coaster before the big event?”

Kalo katanya salah satu teman sih, cuma mau ngedapetin sertifikat halal aja kenapa harus ribet? Yaaaaah sob, yang namanya tinggal di budaya Timur, nggak segampang sumpah nikah ala ala Eropa sana. Indonesia punya banyak suku dan budaya, dan rasa-rasanya sulit untuk melupakan tradisi/aturan adat yang sudah ada. Tapi proses-proses adat ini lah yang harusnya bisa kita sambil nikmati, karena kan nggak setiap hari kita mengadakan perhelatan besar. Proses bersatunya dua keluarga tidak hanya berkutat di materi saja, tapi juga effort di dalamnya. Hehe saya suka pusing sendiri pas lagi kepoin persiapan pernikahannya teman/saudara, iseng-iseng browsing vendor gedung, catering, busana, sampai dokumentasi yang total biaya semuanya bisa untuk hidup berumah tangga puluhan tahun lamanya hahaha lebay.. Padahal, kembali lagi, hanya untuk mendengarkan kalimat, “SAH!!” dan “Selamat menempuh hidup baru!”

Hadeeeh.. BRB ngepet nabung dulu yah sob.. 😆

10 thoughts on “Wedding Excitement”

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s