Mbak Nita’s Wedding: Pengajian, Siraman, Midodareni

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga.. Setelah lama berkutat dengan persiapan dan tetek bengek perlengkapan, Jumat, 18 Januari 2013 kemarin akhirnya Mbak Nita melangsungkan acara pengajian, siraman sekaligus malam midodareni sebelum acara akad dan resepsi pernikahan tanggal 20 Januari-nya. Capek, haru dan deg-degan pelan-pelan rasanya mulai rontok mendekati hari H pelaksanaan akad dan resepsi *yang nikah siape yang deg-degan siape?* 😆 

Saya udah siap menyambut tamu undangan pengajian jam 08.30 pagi. Lumayan banyak yang datang biarpun cuacanya mendung gulem dan berujung pada hujan deras. Suasana haru biru dan bahagia pun tak luput pagi hari itu. Alhamdulillah semua berjalan sesuai rencana. Dan setelah pengajian selesai, selepas waktu solat Jumat dimulailah acara pemasangan bleketepe sebelum siraman dimulai.

Ada filosofi-filosofi tersendiri kenapa harus ada pasang bleketepe di depan pintu rumah. Sebagai orang yang notabene bukan berdarah Jawa, saya kurang paham juga kalo disuruh ngejelasin apa maksud dari urutan acara ini. Mungkin Ninda bisa membantu *karena udah duluan ngalamin 😆 *. Mohon dibantu yah kalo ada penulisan kata yang salah, atau mungkin salah pengurutan acara hihihi 😛 Anyway, suasana adat Jawa terasa banget di rumah Mbak Nita. Jadi inget waktu salah satu adiknya bapakku menikah di tanah Jawa belasan tahun yang lalu, persis sama kayak gini suasananya.. 😆

Sebelum acara siraman dimulai, terlebih dahulu orangtua mempelai perempuan ‘meracik’ air untuk siraman yang berasal dari tujuh air dari mesjid di beberapa tempat. Setelah semua air sudah dicampur, sebelum melakukan siraman, Mbak Nita sang calon mempelai wanita terlebih dahulu sungkem ke orangtua dan para eyang. Aku sing ikutan mbrebes mili nontoni Mbak Nita sungkem. Sedih banget huhuhu.. Kelar sungkem, calon pengantin langsung diarak ke lokasi siraman..

Cakep banget yah yang lagi disiram. Aslinya lebih cakep dari yang di foto loch. Ya mohon maap sebelumnya dari awal pengambilan gambar emang nggak ada bagus-bagusnya. Akik hanya mengambil gambar dari perspektif penonton saja hihihi. Setelah selesai disiram oleh kedua orangtua dan para sesepuh, Mbak Nita digiring *kok bahasanya digiring sih?* ke dalam untuk bersiap-siap acara malam midodareni. Dan acara belum lah selesai. Setelah acara siraman selesai, para tamu diberi uang koin dari bata untuk membeli es dawet yang *ceritanya* dijual oleh kedua orangtua calon pengantin wanita.

Selagi kedua orangtua berjualan, para ‘pembeli’ memanjatkan doa untuk calon pengantin dan pernikahannya. Setelah sudah habis pembelinya, ayah dari calon pengantin menghitung jumlah koin yang berhasil dikumpulkan. Ada filosofinya juga nih, dimaksudkan agar rejekinya semakin bertambah. Tolong dikoreksi ya pemirsa kalo salah, mungkin bahasa akik kurang apik nih huehehehe.. 😛 Kalo saya nggak salah inget, abis ngitung ‘duit’, kedua orangtua calon pengantin melepas ayam *ayam yang masih hidup tentunya* sebagai simbolik mereka melepas anak mereka ke dunia luar. *mulai kecapekan jadi nggak sempet ambil foto*

Kata MC, kalo mau ketularan dapet jodoh atau pengen nikah cepet, monggo diambil air siramannya, nanti dipake buat cuci muka atau buat mandi. Dalem hati pengen banget langsung ambil galon buat nampung sisa air siraman, tapi malunya itu nggak nahan. Akhirnya saya nyenggol salah satu sepupunya Mbak Nita buat ambil air siramannya hahahahaha.. Cuma buat iseng doang kok.. 😆

Karena jeda waktunya masih agak lama banget, akhirnya saya pulang dulu ke rumah. Alhamdulillah, gini deh enaknya kalo rumahnya deketan. Nggak ada 5 menit naik motor langsung sampe 😆 Anyway, jam 7 malam saya balik lagi ke rumah Mbak Nita. Mau liat acara midodareni (sekalian bantu-bantu yang mesti dibantuin). Pas banget saya baru dateng, nggak lama kemudian Mas Bayu calon pengantin prianya juga sampai ke rumah. Langsung deh diskusi seru antar dua keluarga. Mas Bayu ceritanya ‘nanya’ ke Mbak Nita, mau nggak nikah sama Mas Bayu hehehe *kalo bahasanya salah langsung dikoreksi yak*

Calon mempelai wanitanya cantik sekali. Akik mah nggak ada apa-apanya hahaha.. 😆 Alhamdulillah, acara selesai dan berjalan sesuai rencana. Masih ada jeda waktu satu hari sebelum akad, jadi keluarga dan panitia bisa istirahat sebelum acara besar di hari Minggu tanggal 20 Januari 2013.

…to be continued

8 thoughts on “Mbak Nita’s Wedding: Pengajian, Siraman, Midodareni”

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s