Eff Police, And Eff You!

Kejadian ini berlangsungnya udah hampir seminggu yang lalu ketika saya berencana untuk bertemu dengan seorang teman. Kejadian ini semakin mengubah pandangan saya tentang kepercayaan dan persahabatan. Bukan karena saya trauma atau selama ini ngumpulin nyawa juga makanya saya baru cerita sekarang, tapi saya juga bingung mau mulai darimana. Dan mudah-mudahan kejadian ini nggak terjadi sama teman-teman semua. Masih terkait soal penipuan atau entah apa namanya itu, tapi berbeda sama kasus bulan Januari kemarin. Intinya sih, this was what happened between me, polis(h)i(t), and a friend named Bondan.. 

Jadi ceritanya Senin kemarin saya mau ketemuan sama Cepe di daerah Sabang sepulang dari kantor. Menjelang jam pulang kantor, tiba-tiba Bondan telepon ngajak ketemu. Agak nggak biasanya sih dia ngajak ketemu rada ngebet (dan saya baru sadar sekarang). Dari kemarenannya juga dia ngajak ketemu tapi saya nggak bisa due to top of list spending leisure time on the weekend. Biasanya sih kita ketemunya jarang banget, once in a month pun kayaknya nggak ada. Ya sebutuhnya dia dan semaunya saya aja. Kalo ketemu juga cuma ngobrol di coffee shop terdekat. Saya emang murah sih kalo diajak ketemuan sama teman, as long as I’m free tentunya. Well, long story short, sebelum ketemu Cepe, akhirnya saya sepakat ketemu sama Bondan nggak jauh dari Sabang. Kebetulan juga saya parkir di Menara Cakrawala. Udah deal mau ketemuan di coffee shop, Bondan bilang belasan menit lagi dia nyampe di TKP. Pas lagi nunggu beberapa menit dan sudah duduk anteng, tiba-tiba Bondan telepon ngabarin kalo dia kena musibah. Sebagai teman ya saya ngedengerin aja dong dia ngomong apa. Bondan bilang katanya dia kena tilang di lampu merah nggak jauh dari tempat kami janjian ketemuan. Sejak dari awal dia sudah handal mengendarai motor, dia nggak punya SIM, and I thought that’s his first problem. Ya udah kebayang dong jadinya gimana kalo kena tilang trus nggak punya SIM. Dan kesalahan Bondan yang kedua adalah *kalo nggak salah denger* dia salah bawa surat/STNK motor. Udah nggak punya SIM, salah bawa surat pula, ya dobel dong hukumannya. Ya whatever hukumannya pun (before I knew what was going to happen in the next minute) itu udah jadi konsekuensi yang harus ditanggung Bondan. Sampai tiba-tiba Bondan yang masih online di telepon sama saya bilang,

“Lo bisa bantu gw nggak?”

Ketika kita mendengar itu dari seorang teman yang sudah kita kenal dengan baik, ya pastinya nggak akan ragu untuk mengulurkan tangan. But I didn’t have any idea untuk si Bondan yang ditilang ini. Saya aja yang jahat kali yeh, but I thought like it’s his business to fix his own problem. Tapi instead of fixing it by himself, dia seperti mengarahkan saya harus bagaimana — yang mana sekali lagi, sebagai seorang teman, saya mau membantu. Karena Bondan nggak bawa (atau nggak punya mungkin) uang cash, dia minta saya nanya sama petugas tilangnya, mereka punya rekening yang bisa ditransfer dengan sejumlah uang yang biasanya tilang itu butuhkan (dalam kasus ini katanya si Bondan kena Rp250k — yang mana kalo dipikir-pikir kayaknya nggak mungkin sebanyak itu). Kenapa Bondan nggak minta saya transfer ke rekeningnya dia, karena katanya dia nggak mau ninggalin motor dan barang bawaan yang ada di motor tersebut — takut dibawa lari sama petugas tilang katanya. Dan saya juga nggak mau untuk dateng ke tempat Bondan ditilang, kata Bondan lebih baik nggak usah kesana (and it sounded suspicious to me). Jadinya dia nyuruh saya untuk minta nomor rekening si petugas tilang. Saya disuruh ngomong di telepon dengan petugas tilang sesuai dengan arahan si Bondan. Petugas tilang yang bernama Lukman yang entah nggak jelas juga bertugasnya dimana bilang mereka nggak punya rekening umum. Saya juga udah keburu bilang saya nggak bisa kesana karena ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal dan kantor saya adanya di daerah Sunter. Bondan dari awal mengarahkan ke saya untuk mengaku sebagai saudara sepupu si Bondan, dan bersedia untuk menjamin Bondan. Well yeah, I said yes. Tapi turned out malah nggak membantu karena Bondan harus menyelesaikan administrasi dan juga biayanya. Karena petugas tilang ini nggak punya rekening umum, si Lukman ngomong kalo gimana kalo diganti sama pulsa aja. Terdengar aneh sih di telinga saya, sumpah aneh banget. Baru kali ini saya denger petugas tilang minta pulsa, Rp250k pula. Well, sekali lagi, in the name of friendship dan rasa kasihan, saya menuruti saja — takutnya temen saya kenapa-kenapa kan. Soalnya dia ngaku Selasa-nya harus udah ada di Surabaya lagi.

Bondan ngakunya udah bayar Rp50k jadi saya tinggal bayar sisanya. Kemudian si petugas tilang kasih nomor teleponnya; 085280947571, minta ditransfer sejumlah dengan biaya admin tilang yang aduhai besarnya itu (Rp200k). Dan ternyata gagal, karena menurut ATM nomor yang saya masukan itu salah. Saya coba sekali lagi, masih salah juga ternyata. Akhirnya saya bohong, saya bilang aja udah berhasil ditransfer tapi nggak tau udah sampe disananya apa belum. Si Lukman bilangnya belum terima, tapi terkesan percaya kalo saya udah berhasil transfer. Saya bilang ke Bondan kalo saya bohong, karena emang ternyata nggak bisa sama sekali transfer ke nomor 0852 itu. Nggak lama kemudian, Lukman ngasih nomor telepon lain; 085714988855, ngakunya nomor telepon atasannya, Budi Raharja. Saya belum merasa dirugikan karena transfer pertama emang nggak berhasil (saya cek saldo ATM masih utuh), cuma saya udah mulai gerah kalo ternyata mereka masih minta transfer pulsa lagi — atasannya pula yang minta. Atasannya kere banget kayaknya sampe nggak bisa beli pulsa. Akhirnya saya transfer dengan jumlah yang sama ke nomor kedua itu. Dan berhasil.. Saya pikir kelar dong urusannya, udah nggak perlu lagi yang namanya transfer apalagi transfer pulsa. Tiba-tiba si Lukman minta ditransfer lagi buat rekannya yang lain, dan saya lupa namanya siapa  ke nomor 081282177515. Mother of God, I thought like what kind of sh*t I was in. I thouht that was enough. Biarpun si Lukman bilang saya sangat berjasa sekali sudah mau membantu Bondan dan bersedia untuk tidak melaporkan kemana-mana dan saya juga dikasih uang jasa sebesar Rp500k (menggunakan anggaran kepolis*an yang harus dihabiskan katanya) karena saya udah mau transfer pulsa ke mereka. Eff you, Sir! I was done with the game! Saya ngomong ke Bondan kalo saya nggak bisa bantu dia lagi, saldo ATM saya udah abis atau apalah itu namanya, dan saya udah nggak bisa bantu dia sama sekali. Saya matiin teleponnya, batere hp saya cabut, dan saya langsung jalan ketemu Cepe sesuai dengan rencana awal.

Pas ketemu Cepe, saya ceritain semuanya karena Cepe kenal dekat sama Bondan, kenal lebih lama daripada saya. Cepe said, “Nad, I don’t trust him anymore from a long long time ago“. Ya saya mana tau, sebulan yang lalu terakhir saya ketemu Bondan dia masih baik-baik aja cerita banyak sama saya. Saya rasa otaknya udah gesrek gara-gara kelamaan nongkrong di taman RS PGI Cikini makanya sampe berani ngelakuin hal kayak gini ke teman sendiri. I don’t know how to trust him in the future. Bodohnya saya juga adalah saya nggak bisa mikir pada saat itu, mungkin saya panik, dan saya nggak telepon Cepe atau teman saya yang lain. At first saya mikir, kalo emang kejadian ini benar dan ternyata dia sempat ditahan karena nggak punya surat lengkap trus dia marah sama saya dan nggak menghubungi saya sama sekali, bagi saya ini fair karena dia mungkin kesal sama saya. Tapi lain halnya kalo dia bohong sama saya dan nggak ada attitude baik, at least minta maaf tanpa harus mengganti biaya yang sudah saya keluarkan. Well, saya juga nggak butuh itu sih. All I wanna know is the truth. Saya tanya ke teman-teman yang lain, apa yang saya alami sama sekali nggak make sense, bahkan ada yang bilang saya dihipnotis. Semahal-mahalnya tukang tilang minta biaya admin nggak pernah sampe sebesar Rp250k, even untuk mobil pun paling mahal dikenakan Rp100k, dan seumur-umur orang-orang kena tilang kayaknya nggak pernah ada yang sampe minta pulsa. It all felt so suspicious to me. Saya jadi bingung harus gimana, di satu sisi saya udah ngerasa melakukan hal yang benar dengan tidak berlarut lama-lama dalam urusan ini, di sisi yang lain saya kasihan sama Bondan tapi saya pikir kok tumben-tumbenan dia bego soal urusan beginian. Saya nggak tau lagi harus percaya siapa 😦

Keesokkan harinya saya nggak mencari tahu kelanjutan kasus ini, apakah si Bondan sempat ditahan atau dia marah sama saya, I don’t give a sh*t. Sampai detik ini pun nggak ada kontak BBM/SMS apalagi telepon, I did even notice kalo profile picture dan status BB si Bondan suka berganti-ganti. Dan tadinya saya sama sekali nggak peduli, sampai akhirnya saya tanya sama teman lain yang juga dekat sama Bondan, when was the last time she spoke to him. I was curious to check out on his Foursquare account. Emang sih terdengar konyol, kadang kan orang suka ngibul kan lokasi check in-nya dimana. Tapi Bondan bukanlah tipikal orang yang suka melewatkan momen. Dimana ada tempat baru, disitu dia check in. So, saya check statusnya tanggal 15 April, and he’s still in Surabaya at that time. Damn, eff off! Trus saya analisa nomor telepon yang si tukang tilang kasih; 085280947571, 085714988855, dan 081282177515. Saya nggak mau telepon ke nomor-nomor itu atau coba sms. Then I started to take a look at Bondan’s phone number. Saya inget, di hari Kamis minggu lalu Bondan tiba-tiba telepon saya dengan nomor barunya dari Surabaya, ngakunya nomor yang biasa dia pake tiba-tiba rusak entah kenapa dan BB nya juga ikutan rusak. Saya disuruh save nomor barunya; 085280947551. I did not realize the number sampai dengan kasus ini berlangsung — even cuma beda satu nomor dan ini aneh banget. Damn, I got punk’d by this person. This was so unbelievable to me 😦

Bondan, I know I use an initial for you, but if you happen to read my blog, eff off, man! Bukan nominal uangnya yang saya sesalkan, tapi cara kamu buat ngedapetinnya. Remember dude, you just dropped off your pride and human value due to this case. Adios..

14 thoughts on “Eff Police, And Eff You!”

    1. Iya nggak enak banget Mbak, gw aja masih rada nggak percaya. One of the most trusted people turned out malah bikin gw kuciwa abis-abisan huhuhu.. 😦

  1. Yaampun serem bgt sih tenk. Untuuuuungggnya elo gak kenapa2 ya baik fisik maupun materi. I mean, kalo emg dia udh bgitu, bisa aja lo diapa2in kalo ktmu lg. ih amit2.. Stay safe and sound tenk.

    1. Masalahnya nggak akan pernah menduga sampe sebegitunya Mbak Nina. So far masih baik-baik aja selama 4 tahun temenan akrab. Emang sih udah jadi rahasia umum di lingkungan pertemanan gw kalo dia punya masalah keuangan, tapi nggak pernah minta sama gw karena gw juga nggak pernah kasih respon yang jelas. Eh malah kena juga, caranya kayak begini pula 😦

  2. Ya Allah.. temen kamu tega banget ya Nad..
    semoga Nadya segera dapetin gantinya dengan rejeki lain yang lebih besar dan lebih berkah. aamiin.. sabar ya neng.. *peluk Nadya*

    1. Udah kenal dari 7 atau 8 tahun yang lalu, akrabnya baru 4 tahun belakangan Mbak Ning.. Gw rasa juga dia kepepet sampe nggak punya akal sehat buat nipu temennya sendiri 😦

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s