Work To Get Passions

Tiba-tiba aja saya keingetan sesuatu setelah baca postingan blog suami salah satu blogger favorit saya — istrinya yang suka nulis, suaminya kadang-kadang aja nulisnya. Intinya sih nggak jauh-jauh dari passions. Long story short, di saat beliau menulis tentang hal itu beberapa tahun yang lalu, beliau masih mencari tahu apa passion-nya — which means umurnya pun sudah tidak lagi muda. Di salah satu paragraf blog-nya beliau cerita tentang adanya rasa penyesalan ketika memilih jurusan kuliah pada saat beliau masih muda. Tetapi tidak serta merta beliau terpuruk pada rasa sesalnya, karena di jurusan itu pula lah yang mempertemukan beliau dengan istrinya. Kalo soal salah pilih jurusan kuliah, saya rasa hampir semua orang pernah mengalaminya — saya sendiri pun mengalami hal itu. Kalo boleh memutar kembali waktu, saya ingin masuk jurusan kuliah di luar fakultas ekonomi. I’m not into economics, but my addiction in arithmetic and details just saved me — plus luck 😀 Tapi ya nggak perlu disesali juga. I’m glad I keep continuing what I do though I maybe don’t really like it. Kedengarannya seperti tidak bisa berpegang teguh pada prinsip, but hey, I think it’s one of the ways in finding passions. Dan biasanya sih, karena terbiasa, saya jadi suka sama apa yang saya lakukan. Pernah bekerja di tiga industri yang berbeda bukanlah hal yang mudah bagi saya, meskipun di tiga industri ini saya mendapatkan job desk yang hampir sama. Entah keberapa kalinya saya berbicara tentang passions, dan menurut saya ini juga salah satu hal yang nggak akan ada habisnya kalo diperbincangkan — sama aja kayak ngebahas masa lalu. SUPER EEEAAAAAKKKKKKKKKK.. 😆 Anyway, saya pernah nanya sama sahabat-sahabat saya, apakah mereka sudah menyukai pekerjaannya. Banyak dari mereka menjawab mereka kurang begitu menyukai apa yang mereka kerjakan, tapi dari hasilnya mereka bisa mendapatkan apa yang mereka suka. Yaaa passion kan nggak serta merta harus sesuatu yang dilakukan, tetapi bisa juga berupa apresiasi dalam bentuk benda — yang bahkan bisa dijadikan investasi juga. Dan sampai detik ini, saya masih bekerja untuk mendapatkan apa yang saya suka. Mungkin itu yang membuat saya semangat bekerja. Well, beruntunglah bagi orang-orang yang saat ini bekerja sesuai dengan passion-nya. Tapi jangan berkecil hati bagi yang belum. As a start, love what you do while you do what you love. Dan IMHO, mengutip dari quote film Door To Door, sabar dan tekun adalah faktor esensial dalam menemukan passion.

And this is what insomnia has to do with me. Selamat bekerja semuanya 😆

30 thoughts on “Work To Get Passions”

  1. gua gak menyesali jurusan kuliah gua lho. walaupun tadinya gua gak pengen masuk situ. jadi sebenernya gua pengen banget kuliah jurusan matematika atau musik. 2 hal itu doang yang gua pengen. tapi bokap gua nyuruh masuk akuntansi. akhirnya nurutin bokap dan gua gak nyesel… 😀

    1. Gw pun nggak menyesali apa yang gw pilih Mas pas kuliah dulu. Even gw juga nggak milih jurusan yang diinginkan Ayah hahaha.. Pilihan kuliah gw waktu itu last minute banget, dan JRENGGGGG.. 3 tahunan kemudian lulus dengan mulusnya alhamdulillah.. 😆

  2. Hi Nadya, salam kenal ya 🙂
    Emang kalau ngomongin passion gak ada abisnyaaa, aku dari zaman kuliah sampe udah kerja topik omongan sama temen2 gitu jugaa, dan masih sedikiiit banget yang bener-bener bisa nemu. Semoga kita cepet menemukan passion kita yaa 🙂

    1. Halo Astrid, salam kenal! Blog mu menarik deh, apalagi cerita Au Pair — trus ane jadi tertarik gitu hehehe 😆

      Semoga jalan menuju passion kita dipermudah ya, amin 😆

      1. Iaa, itu sekedar berbagi pengalaman, karena menurut aku bagus dan bermanfaat, jadi coba dibagi, siapa tau ada yang memerlukan 🙂 Ayooo dicoba, mumpung masih muda bisa cari pengalaman ke eropa 😀
        Aminn yaa 🙂

  3. Kita ini kan manusia, mana pernah ada puasnya meskipun target udah tercapai, tapi gt deh kalo gak gitu jadinya gak termotivasi untuk melakukan sesuatu hal dunk yah.
    Dan yang namanya sekolah, aku rasa ilmu itu gak ada yg mubazir kok, Nad, karena gak ada batasan usia untuk belajar kan *ceritanya abis curhat2an ama temen masalah sekolah juga nih* 😀

      1. Gw rasa kalo udah jam 12 malem ke atas, jiwa gw bukan jiwa teenager lagi, Mbak.. *yakalik masih teenager*

        Apa gw harus insomnia terus supaya omongannya jadi punya sedikit value hahaha 😆

  4. Aku dulu juga salah pilih jurusan mbak. Trus aku ganti dengan apa yang aku suka sekarang hehe. Emang sih jadi lulusnya agak ngaret tapi aku gak nyesel 😀
    Aku juga lama banget baru bener2 tau passion aku dimana. Justru dengan salah itu sekarang aku tau aku suka apa dan bagus di apa hehe

      1. yess 😀 pasti ada hikmahnya hehe
        betuul mbak jangan pernah menyesal krn itu salah satu jalan untuk mencapai apa yang ingin/akan kita capai 🙂

  5. Saya sih menyesal kenapa gua gak punya pilihan dalam menentukan sekolah dulu, harus ngikuti kemauan saudara karena dia yang membiayai. Tapi gua gak nyesal dengan pilihan kerja sekarang, gua berusaha menikmati. Kalau tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, gua berusaha mencintai pekerjaan yang gua jalani.

    1. Terkadang hidup kita dihadapkan dengan pilihan yang cukup sulit ya. Mungkin salah satunya yang Alris alami. Semoga ada hikmahnya ya.. Salut banget sama orang-orang yang mencintai apa yang dikerjakan meskipun tidak sesuai keinginan 🙂

      1. Hahahaha dimaapkeun. Ane juga sering skip kok 😆

        Btw, udah fix di jakarta terus? Apa masih keluar kota terus? Ayo olahraga di Thamrin bareng 😆

      2. Ehehehe.. iya kak eyke udah fix di jakarta nih. Mudah2an seterusnya.. period keluar kota nya udh berakhir kemaren.. ayookk aturr hehe.. jangan sibuk2 mulu dong kak.. klo lg wiskul ato jalan ajak ane napa :p

  6. Oh I love this post. Klo udah ngomongin passion emang ga ada abisnya. Dan somehow saat kita ‘terpaksa’ kerja diluar passion kita karena ada alasan tertentu yang mengharuskannya, kita malah jd mikir buat memperjuangkan passion kita yang udah sempet ‘dikubur’ dalem2x. *numpang curhat ya Nad* 😀

    1. Hehehe maka dari itu Pang, mungkin passion-nya kita kubur dulu sementara kita bekerja di dunia yang bukan passion kita. Ya sembari mengumpulkan materi, passion kita juga bisa dicicil gerilya kan? 😆 *numpang sotoy*

  7. Eeeaaaakkkk.. Topik tentang passion memang gak akan ada habisnya. Aku sih gak nyesel milih jurusan kuliahnya, tapi nyesel milih pekerjaan yang sekarang, karena it’s just not into me gitu deh 😆

  8. Udah lama deh gak mampir blog kamu. Sekalinya mampir nemu post yang pretty much what I’ve been through lately. Ini kedua kalinya gw kerja di industri ini padahal pas percobaan pertama udah sempet declare gak mau kerja di industri ini lagi. Industri yang gak terlalu gw cintai karena high pressure. Industri yang bikin heboh beberapa hari belakangan ini karena menelan korban akibat overworked.

    Abis baca tulisan ini baru sadar.. hasil dari pekerjaan yang gak terlalu gw sukai ini bisa buat beli hal yang amat gw sukai setiap bulannya sambil menunggu suatu saat gw akan menemukan kerjaan yang bener-bener gw cintai. So, why whining? Thank you for the warm reminder, Nadya 🙂

    1. Yes darling, me feelin’ the same way too as well. Tapi ya lama kelamaan gw jadi mencintai pekerjaan yang sekarang alhamdulillah. Well, nggak literally cinta sih, tapi menikmati. Senengnya bisa interaksi sama customer dan bisa sharing sesama sales, sama susahnya mengerti teknis plus handle customer yang wataknya aneh bin ajaib 😆 Alhamdulillah hasilnya bisa buat biaya hidup 🙂

      Kuncinya yang penting bersyukur ya Nda, whatever happens. And yes, why whining? 🙂

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s