Euro Trip Day 3: Zaanse Schans, Volendam, Amsterdam

Melanjutkan cerita sebelumnya, bermalam di Amsterdam lebih baik daripada di Jerman kemarinnya. Nggak lain nggak bukan karena saya nemu ketel buat masak aer. Esensial banget buat “infant” kayak saya gini yang kemana-mana harus minum susu. Kebetulan juga tinggal di group-nya NH Hotel, jadi sabun dan perkakas mandi lainnya nggak beda sama yang di Jerman. Dan satu lagi yang beda, selimutnya dingin banget kayak hati kamu. Hahahaha si oncom mulai kumat deh. Malam itu entah kenapa badan saya rasanya rontok banget dan langsung jatoh gitu aja di atas kasur. Bangun-bangun udah subuh dan langsung masak nasi. Alhamdulillah ya Allah, setelah 3 harian berjibaku di jalanan akhirnya ketemu nasi juga. Disantap hangat-hangat dengan teri kacang pedes endes dan juga abon yang udah diransum dari Jakarta. Kalo nggak salah saya makan 2 wadah tupperware hehe nggak tau juga ini maruk apa emang laper, endingnya ditutup dengan segelas (apa dua gelas ya?) susu cokelat hangat. Yumm 😛 

Menjelang matahari terbit, langsung mandi karena sarapannya jam 7.30 waktu Amsterdam. Lah emang masih mau sarapan lagi? Lah iyak, kan belum ketemu roti, keju sama buah-buahan 😀 Sarapan di NH Amsterdam ini pun tak mengecewakan. Roti, sereal, keju dan buah-buahan segar bertebaran dimana-mana. Dan sebelumnya, kami satu rombongan travel ini nggak ngobrol satu sama lain, sampai akhirnya tegur-teguran sama ibu-ibu yang logat bicaranya persis ibu saya, namanya Bu Mega. Kalo diperhatiin, kayaknya tiap grup saya ngapain, Bu Mega ini seneng banget ngomentarin. Nggak cuma sama keluarga Bu Mega, kami juga kenalan sama keluarganya Pak Thoriq yang paling heboh diantara semua rombongan. Begitu sarapan kelar, langsung diangkut Mr. Sandor menuju Zaanse Schans.

Inget nggak lagu Katanya Trio Kwek Kwek?

“Belanda negeri kincir, katanya..katanya.. Keju penghasilannya, katanya..katanya.. Tulip nama bunganya, Dam nama bendungannya..”

Emang bukan “katanya”, tapi emang kenyataannya. Baru tau saya ternyata kalo kincir angin ini udah dikembangin Belanda dari abad ke-13, tujuannya untuk mengatasi masalah banjir. Sebagian besar wilayah di Belanda ini datarannya lebih rendah daripada permukaan laut. Selain dibantu sama bendungan-bendungan besar, untuk ngatur aliran airnya dibantu sama kincir angin. Nah, sebenernye ye, enak ke Belanda pas bulan Maret sampai bulan Mei karena bertepatan dengan Keukenhof, salah satu kebon bunga terbesar di dunia setelah Dubai. Jadi kalo pengen liat tulip asli bermekaran, silakan berkunjung antara bulan Maret sampai bulan Mei 🙂

Ada satu hal unik yang baru saya sadari di negara-negara Eropa ini. Penghubung dari satu wilayah ke wilayah yang lain adalah dengan menggunakan jalan tol, tanpa dikenai biaya di negara-negara tertentu. Dan jalan tol ini kebanyakan melintasi perumahan dan juga pusat kota. Semula saya pikir gambar di atas ini hanya sebatas pembatas jalan aja, tapi kok cuma ada di spot tertentu saja. Ternyata ada fungsinya nih, yaitu untuk menahan suara bising dari kendaraan di jalan tol (semacam peredam suara). Bisa nggak ya itu tembok dibawa pulang buat dipasang di seberang rumah saya? *nasib punya rumah di pinggir jalan*

Begitu masuk ke wilayah North Holland, baru deh kerasa suasana pedesaannya. Yang namanya rumput, hijau sehijau-hijaunya. Rasanya pengen langsung loncat, terus guling-gulingan bareng sapi-sapi gemuk itu 😀

Sebenarnya hari ini agendanya cuma ke Volendam sama main-main di sekitar Amsterdam aja. Cuma pada bosen karena belum ngerasa di Belandanya. Akhirnya tour guide kami langsung inisiatif ajak kami ke Zaanse Schans, salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi di Belanda. Mau foto di depan kincir angin segede gede kabeh, ya disini tempatnya 😀

Ada apa sih di Zaanse Schans ini? Ya selain kincir angin segede-gede kabeh tadi, ada juga museum, rumah khas Belanda, tempat pembuatan sepatu clog, dan tempat pembuatan keju.

Keluar dari tempat pembuatan keju ini saya disambut dengan wifi gratis. Nggak tau pasti ini koneksi darimana, dan nggak tau juga in the end bayar atau nggak. Tapi senang deh kalo di tempat wisata atau tempat umum gitu banyak wifi, sangat bermanfaat untuk kami-kami yang fakir wifi ini 😀 And I was still amazed with the view. Cold yet so fresh ❤

Pas saya sama yang lain lagi asik foto-foto di pinggiran danau (apa laut?) Zaanse Schans, tiba-tiba ada anjing yang lewat. Sebenarnya tidak menakutkan dan majikannya pun jalan nggak jauh darinya. Cuma salah satu rombongan kami ada yang terlihat ngeri begitu anjing ini lewat (anjingnya pun nggak gonggong). Begitu anjingnya udah agak jauh, giliran majikannya yang wanita separuh baya datang sembari berkata, “Where are you from?”. Semua serentak bilang dari Indonesia. Abis itu si ibu ini bilang, “You live in a country where there are so many weird animals, like snakes and any others, and you’re afraid of dog?”. Abis itu kami minta maaf soal respon kami ke anjingnya dan beliau ninggalin kita sambil ketawa sinis. Yaelah…..

Keluar dari Zaanse Schans, serombongan langsung beranjak ke Volendam, daerah pelabuhan dan juga perkampungan nelayan.

Begitu udah dekat Volendam-nya, mata ini disuguhi bangunan rumah modern di wilayah ini. Beberapa rumah masih terlihat sederhana, tetapi beberapa rumah ada yang keliatan “kayaknya-yang-punya-orang-kaya-banget-karena-bentuk-rumahnya-nggak-biasa”.

Pas turun dari bis, awalnya masih ngerasa biasa aja tuh sama anginnya. Tapi begitu jalan ke pinggir laut, baru deh itu yang namanya kulit di badan berasa di-silet-silet sama angin laut. *pelukan sama jejaka Belanda*

Well, seenggaknya bisa nikmatin rumah mungil di pinggiran laut ini sekaligus dapat inspirasi interior unik 😀

Kami diberikan waktu bebas untuk keliling, belanja (lagi), dan group saya memilih untuk foto pakai baju tradisional ala-ala noni Belanda di J. Zwarthoed.

Tempat ini bukan satu-satunya spot untuk foto ala-ala noni Belanda, cuma tempat ini yang paling banyak dikunjungi turis-turis (terutama Indonesia). Tapi saya tau sih alasannya kenapa, take a look at these:

Dan begitu masuk ke dalam disambut dengan noni pirang yang mahir sekali dengan bahasa wilayah Asia, bahasa Indonesianya juga termasuk fasih. Lupa namanya jeung siapa, sebut saja jeung Barbara. Saya tanya si jeung kok banyak sekali foto public figure Indonesia bertebaran di luar maupun di dalam toko. Jeung Barbara bilang ini namanya taktik bisnis, karena jeung Barbara ini tau kalo orang-orang ini beken di Indonesia (mungkin waktu datang pada bawa kameramen). Jeung Barbara juga bilang salah satu grup artis cilik Indonesia seminggu yang lalu bertandang dan sempat shooting di toko. Jeung Barbara sibuk cari foto artis cilik yang berkunjung seminggu yang lalu itu. Abis itu si Barbara nunjuk ke salah satu dinding, begitu dideketin langsung tepok jidat. Cowboy Junior yang personilnya tinggal 3 orang. Yasalaaam….. 😆 Sembari nunggu yang lain foto, saya perhatikan sekeliling. Baju tradisionalnya ada banyak ukuran, termasuk untuk anak balita. Kebetulan di rombongan saya ada beberapa anak balita yang ikutan. Pas giliran salah satu rombongan mau foto, kalo nggak salah namanya Pak Sigit, beliau papasan dengan orang yang sepertinya WNI juga. Akhirnya diajak ngobrol, dan ternyata kok seru. Pas nguping lebih jelas lagi, ternyata mereka serumpun alias satu pariban dari Medan hahaha. Horas bang! Lain halnya dengan rombongan Pak Pardjo. Groupnya Pak Pardjo minta izin mau pisah sebentar sama rombongan, karena ada keluarga yang mau ajak keliling sebentar. Nanti ketemu lagi di Amsterdam pas canal cruise. Nggak lama keponakannya Pak Pardjo jemput, sambil bawa suami bule yang nggak bisa bahasa Indonesia. I don’t know how I can remember this thing so clearly hehe.

Dan satu lagi di toko ini yang bikin saya ngikik. Ada beberapa sign di tembok dengan tulisan “Awas Copet” atau “Beware of Pickpockets”. Jeung Barbara told us a joke from one of the photograph. Jadi di salah satu tembok yang ada sign Awas Copet di atasnya ada foto salah satu public figure Indonesia. She said she made fun of it so yeah she did. Trus saya tanya, “Why did you put that sign below Jero Wacik’s photograph? Do you know who he is in our country?”. Jeung Barbara said, “Yeah of course, that’s why we put that sign below his photo. He did something bad in your country, didn’t he? Oh well, maybe we should take it off soon, it’s bad for advertisement. Next time, I will put your Jokowi on our wall”.

Tapi antik juga ya ini toko. Segala foto orang Indonesia ada, di depan tadi liat Rano Karno, Titiek Puspa, Megawati, Din Syamsudin, OC Kaligis, Gus Dur, di dalem pun ada fotonya Maya Rumantir dengan lipstik ungunya yang mentereng, Dimas Beck, Cowboy Junior, sampai salah satu mantan wakil Presiden kita, Tri Soetrisno. 😆

Sembari nunggu foto jadi, kami makan dulu di sebelah. Katanya salah satu yang terkenal di Volendam adalah Fish & Chips di De Koe. Berhubung saya udah meraung-raung minta makan, akhirnya makan disana, cuma beda beberapa toko dari tempat foto tadi.

Dalamnya sederhana sekali, dan ornamennya masih klasik, dan yang terpenting sih nggak dingin hahaha. Langsung aja order paketan Fish & Chips-nya. Agak lebay sih makan beginian seorangnya dikenakan biaya € 15, mungkin kalo di Jakarta udah dapet Seafood Platter yang bisa disantap 2-3 orang. Dan jangan ngebandingin sama Fish & Chips-nya Fish ‘n Co ya, yang ini bentuknya agak kurang sedap, tapi rasanya masih lumayan oke (yang penting ada asinnya). Saladnya biasa aja, kentangnya juga hambar (anjrit kaga kelar-kelar ini ketemu kentang melulu), supnya hambar, tapi penutupnya yang bikin senyum. One scoop of homemade vanilla ice cream with raspberry sauce. Yumm! 😛

Udah kenyang, trus ambil foto di toko yang tadi. Tapi masa ya, di sebelahnya si tempat foto itu ada tempat makan fish & chips juga yang kayaknya lebih ramai dari tempat makan yang lain. Mungkin tempat ini lebih hipster karena kebanyakan anak muda yang bertandang. Next time kalo ke Volendam lagi, pengen nyobain fish & chips yang itu ah hihihi.

Btw, di Zaanse Schans tadi saya nggak beli kejunya karena nggak handy dan berat-berat banget. Di Volendam ini ada tempat jual keju yang lumayan beragam, kalo nggak salah namanya Cheese Factory. Disini ada paketan keju yang lebih beragam dan bisa dijadikan buah tangan. Saya sendiri termasuk salah satu yang heboh pas beli, sampai hampir ditinggal sama rombongan hehehe 😀

Usai sudah mata ini dimanjakan oleh pemandangan sejuk dan hijau, saatnya memasukin kawasan perkotaan yang urban. The building was cool, and the cyclists were having so much fun. Rasa-rasanya baru kali ini ada parkiran sepeda terbesar yang pernah saya liat.

Dengan biaya (kalo nggak salah) € 12.5 – 15, kita udah bisa menikmati pemandangan Amsterdam dari canal. Dan di boat-nya sendiri bahasa yang digunakan untuk memandu turis ada berbagai macam bahasa, salah satunya adalah bahasa Indonesia. Untuk info lebih jelasnya bisa di-klik di link ini. Surprisingly, air di kanal ini biarpun keruh tapi nggak ada baunya sama sekali.

Di dekat kanal ini juga banyak museum. Salah satunya adalah Tulip Museum, Cheese Museum, dan juga Anne Frank Museum. Dan cafe-cafe di sepanjang jalannya persis yang kayak saya suka liat di Pinterest hehe 🙂

Nah, rombongan kami tidak diturunkan di tempat kami naik cruise semula. Itinerary dari travel sih ngajak ke tempat pembuatan berlian autentik di Belanda, namanya Gassan Diamonds. Duh mak, duit sangu saya bukan buat beli berlian, kenapa diajaknya kemari huhuhu.. Biarpun nggak lama, tapi kami jadi tau tingkat karat berlian paling murni dan tentunya juga taksiran harganya di pasaran. Berlian yang dijual di Gassan ini bersertifikat asli. Jika ada kerusakan atau cacat maka akan di-cover (kayak asuransi gitu). Dan yang membuat berlian ini di dunia hanya ada beberapa orang saja, karena butuh keahlian khusus, bersertifikasi dan juga jam terbang tinggi dalam pengasahannya.

Di Gassan ini kami dipandu oleh Mbak Adel, salah satu representative untuk turis Indonesia di Gassan. Mbak Adel memberi tahu cara mengetahui berlian dari tipe karat dan juga berapa banyak segi yang ada di berlian tersebut. Kami diperlihatkan demo dan juga petunjuk di selebaran yang dibagikan.

Cakep yak? Hehehe tinggal nyari yang rela mau beliin beginian buat saya trus ditaro di jari manis tangan kanan. Amin ya Allah hehehe 😀 Btw, di Gassan ini juga bisa sekalian dibuat dengan cincin atau kalung, bukan berliannya aja. Dan disini bisa custom, seperti alat buat ngukur lingkaran jari yang saya pegang ini.

Btw, lingkar jari manis saya ukuran 48. In case takut saya gemukan lagi, better beliin ukuran 49 yak HAHAHAHAHA ngomong ama panci 😆 Anyway, tempat penyimpanan berliannya juga khusus. Berlian dengan ukuran sekecil apapun ditaro di wadah sebesar ini:

Pas udah mau kelar, Mbak Adel langsung promo salah satu berlian dengan harga € 16,000. Mak, itu kalo di-Rupiah-in ± menyentuh angka Rp 250 juta. Itu baru berlian doang. Belon ama kalung / cincinnya. Istrinya Pak Thoriq matanya langsung berbinar-binar, berhubung beliau juga dari awal masuk Gassan paling gagah jalannya. Dengan hebohnya, terjadilah proses tawar menawar yang sengit antara Ibu Fira (istrinya Pak Thoriq) dan juga Mbak Adel. Sampai akhirnya berlian itu diketok palu dengan harga € 12,000, tetep aja ya bok jatohnya Rp 180 jutaan. Rombongan lain udah mundur aja ke belakang, cuma Bu Fira doang yang masih gagah di depan. Roman-romannya tinggal gesek doang ye kan. Nggak lama Bu Mega bisik-bisik ke suami di belakang, “Pah, kira-kira Papah mau beliin Mamah itu nggak?” sembari nunjuk ke berlian. Dengan lantang sang suami menjawab, “Muka ama perhiasan kaga pantes lah, Mah..”, kemudian suami Bu Mega kabur. Akhirnya sebelum Ibu Fira ini merogoh cek kocek dan permen kojek, tiba-tiba Pak Thoriq memanggil dengan nada agak tinggi. Kayaknya ada perang dunia nih di balik tembok Gassan. Nggak lama saya dengar kalimat lantang begini, “Lu beli tanah berapa aja boleh. Kalo berlian jangan. Rugi, harganya turun.”. Wedeh, juragan properti dari Bogor akhirnya narik urat juga ke bini hahaha 😆

Yaudah, intinya Bu Fira nggak jadi beli berlian, mungkin beliau mau beli tanah aja di Belanda 😀

Udah kelar nih main-main di Gassan, akhirnya ada free time agak lama buat yang mau shopping. Aduh mak, saya bukan tipikal yang pelesiran dengan niatan belanja. Yaudah akhirnya jalan kaki aja di sekitar Dam Square. Diajakin ke Red Light District pada nggak mau. Hihihi yaudin 😀

Btw we took a lot of selfie and wefie, and everybody there was looking at us with “What the hell?” face. Tapi ada satu stranger yang tiba-tiba ikutan nimbrung dan minta di-tag di Instagram. Yassalaaaaam..

Mau makan berat sebenarnya tanggung. Mau jajan juga belum kepengen banget, padahal di sekitaran sini banyak finger foods yang kelihatannya enak. Akhirnya paksain makan beli sandwich Subway tapi cuma setengah dan itu juga gede banget. Awalnya saya nggak mau, begitu suapan pertama kedua ketiga, lama-lama ludes sendiri. Hahahaha emang dasar oncom yak 😆

Di sekitaran Dam Square ini banyak banget tempat belanja, dari brand internasional yang biasa kita lihat di mol Jakarta, sampai brand lokal. Cuma bukanya nggak sampai malam, jam 6 sore bahkan sudah beres-beres toko. Saya juga nggak sempet masuk ke toko-toko yang menarik, dan memilih untuk jalan kaki keliling (biarpun kaki juga udah rontok brats).

Yang belanja udah selesai tapi masih ada waktu buat duduk-duduk menikmati jalan. Akhirnya kami duduk di salah satu cafe nggak jauh dari meeting point. Nggak lain nggak bukan juga karena butuh koneksi wifi. Besok-besok ke luar negeri bawa router deh biar nggak ribet hehehe 😀

Ada scene lucu pas kami lagi santai. Di depan cafe ada sepasang remaja yang kayaknya lagi berantem hebat. Saya pikir lagi ada syuting film atau serial TV, tapi ternyata berantem beneran. Cuma berantemnya kok kayak sinetron ya? Pindah kesana kemari, teriak-teriak kayak di hutan. Disini ceweknya yang agresif, semacam minta klarifikasi atau penjelasan. Begitu suaranya hilang, kami pikir pasangan itu udah damai, tau-tau berantemnya pindah tempat ke seberang. HAHAHAHAHA saya pikir Indonesia doang yang abegenya kebanyakan drama, ternyata di mari juga 😆

We thought the night was still young, but we needed to get going. Dan ternyata rombongan saya yang paling ditunggu-tunggu, karena semua udah kumpul lengkap di bis. Sekali lagi, hampir dua kali grup saya ditinggal. Semoga besok-besok nggak lagi. 😆

…..to be continued

2 thoughts on “Euro Trip Day 3: Zaanse Schans, Volendam, Amsterdam”

  1. di belakang gereja di Dam itu ada warung indo yg jual nasi goreng kambing enak banget Nad hehe tp gue rasa loe musti nyobain finger food eropah kalo disana ya 🙂

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s