Euro Trip Day 5: Strolling Around The Heart of Paris

Perjalanan dari Brussels ke Paris memakan waktu 4-6 jam. Dengan jangka waktu selama itu saya manfaatkan sekali untuk tidur. Bagian paling nggak enak adalah pas kebangun mendapati naga-naga di dalam perut sudah meraung. Mau-mau nggak mau cuma bisa ngunyah permen karet sampe ngantuk, berharap bangun-bangun udah sampe dan langsung ngacir makan malam atau masak nasi di kamar hotel. Dan sayang sekali, di sekitaran hotel nggak ada tempat makanan yang menggugah selera. Adanya restoran arab sama KFC. Saya udah mulai bosen dengan lauk teri kacang sama mie gelas, sepertinya KFC malam itu enak juga. Tapi saya nggak berharap banyak karena bisa aja itu ayam krispi nggak segurih yang ada di Indonesia. Dan ternyata bener aja, bentukan ayamnya nggak segede yang di Indonesia, lebih mirip chicken wings. Sudahlah nggak usah banyak komparasi, santap saja apa yang ada di depan mata, dan jangan lupa penutup sebelum tidur; segelas susu coklat hangat untuk tenkky 😛

Pagi itu tour leader sudah janjian dengan tour guide lokal bernama Annabelle Isabelle. Beliau yang akan mengantar kami berkeliling kota Paris. She speaks Bahasa fluently by the way, begitu saya tanya, beliau memang kuliah jurusan bahasa di Perancis, dan sempat tinggal di Indonesia selama beberapa tahun. Sambil bisnya jalan, Isabelle menjelaskan seluk beluk tentang Paris dari beberapa spot yang kami lewati. I didn’t hear much ’cause I was amazed by the city. Just lovin’ the street, architecture, and the unusual warm wind in this fall weather. Isabelle masih asik cuap-cuap soal Paris, kota yang dipenuhi banyak museum dan tempat-tempat dengan cita rasa seni tinggi. Btw, dengerin orang Perancis ngomong itu asik ya. Maksudnya tuh lucu gitu, gregetan pengen ikutan pronouncing sekaligus bikin lidah dan bibir keriting.

Di perjalanan saya sempet ngelewatin salah satu spot Love Lock, a place where love birds or couples put the lock on the side of the bridge, write down their names and throw away the key. Love Lock ini jadi salah satu daya tarik wisata juga di Paris karena hampir semua turis melakukan itu, bahkan Raisa sekalipun. Menurut pemerintah Perancis sendiri, “gembok cinta” ini bukanlah objek wisata karena merugikan lingkungan. Karena volume gembok yang terlalu banyak dan menutupi sisi jembatan, jembatan ini banyak yang runtuh. Sudah ada larangan mengenai peletakan gembok cinta ini tetapi pemerintah Perancis masih belum tegas.

Kami sempat berhenti sebentar di Place de la Concorde, salah satu alun-alunnya kota Paris. Ada bangunan yang seperti monumen disana, dan di setiap penjuru jalanan banyak museum dan tempat seni lainnya yang bisa dikunjungi. Di monumen yang namanya Obelisk of Luxor ini bentukannya kayak monas-nya Washington DC, tapi di temboknya banyak pahatan hieroglif, hadiah dari pemerintahan Mesir.

Sampai di area Place de la Concorde, tiba-tiba disamperin penjual souvenir asal Senegal dengan logatnya yang khas, “Lima biji satu euro, lima biji satu euro”. Maksudnya beliau lagi nawarin 5 buah gantungan kunci bentuk Eiffel Tower dengan harga €1. Ditawar dong pake bahasa Indonesia sama rombongan tur, om Senegal-nya langsung bingung hehehe. Oiya, Isabelle juga ingetin kami soal jaga barang bawaan terutama yang di hand and carry. Karena di Eropa, terutama di Paris, lebih banyak copetnya daripada di Belanda.

Dari Place de la Concorde, kami langsung menuju Eiffel Tower, melewati terowongan tempat Lady Diana dan Dodi Al Fayed kecelakaan. Katanya bekas kecelakaan di terowongan ini masih ada.

Eiffel Tower ini ternyata diliat dari mana aja bagus ya. Keliatan gagah gitu. Apalagi diliat dari deket kayak begini..

Abis itu kami ke Arc de Triomphe, salah satu monumen terkenal di Paris. Di dalamnya ada makam prajurit yang nggak dikenal. Kalo mau naik ke puncaknya juga bisa, kalo mau ngeliat kota Paris dari segala penjuru 🙂

Dari Arc de Triomphe, kami melewati jembatan yang dipake Adele shooting video klip Someone Like You. Rasanya pingin turun dan nyanyi Someone Like You dari jembatan, didedikasikan untuk…..ah sudahlah 😆

Touched down Les Invalides, where they have this sarcophagus of Napoleon Bonaparte. Les Invalides ini dulunya kompleks isi gedung-gedung semacam military houses, sekarang udah dijadiin kompleks museum.

Balik maning nang Eiffel…..

See you again soon, my friend!

And here we go, entering Louvre area. Kami nggak tur keliling museum, nggak akan cukup juga waktunya karena Isabelle juga harus pergi. She said, “The fall weather in Paris has never been this warm, the nicest ever since I was born”. Which means usia Isabelle sudah mendekati umur 60 tahun. Wow, saya juga ngerasa udaranya lebih friendly daripada negara Eropa lain yang kami sambangi.

Btw, I got to see this inverted pyramid.

Keluar dari area Louvre, kami diarahkan ke area perbelanjaan namanya Benlux, katanya kalo mau cari alternatif brand ternama yang lebih murah dari Lafayette, bisa langsung ke Benlux. Begitu masuk langsung disambut sama sales atau representatif yang bisa bahasa Indonesia, alias emang orang Indonesia — persis kayak waktu di Gassan, Amsterdam. Sebenarnya kalo diitung-itung diskonnya akan sama kayak refund barang Lafayette waktu kita nanti pulang. Cuma kalo ini pas beli udah langsung dipotong diskon. Longchamp classic yang biasa kita liat di Jakarta dengan harga Rp 1, juta keatas, disini harganya jadi sekitar Rp500,000 – Rp700,000. Lumayan yak, cuma dipikir-pikir ongkos kesininya berapa? 😆

Btw, di sebelahnya Benlux ada toko souvenir, yang mana pelayannya (asli Perancis) kalo ngeliat orang Indonesia langsung teriak, “Ayo datang, barang bagus-bagus, murah-murah, MANA TAHAAAAAN….”. Tapi di deretannya lagi ada tempat souvenir yang mana penjualnya orang Bali. Di sebelahnya lagi ada toko eskrim gelato enak.

Baru makan Laduree disini >,< padahal bisa aja ke Singapur yak, cuma kan aslinya dari sini pan. Pas dicobain beneran enak, manisnya nggak kayak macaroon lokal yang dijual di cafe-cafe Jakarta. Agak nyesel nggak beli banyak buat di rumah 😦

Abis itu kami ke Lafayette. Pada mau ngeborong kayaknya. Tapi ada yang lucu nih, pas kami masih lewat pintu samping, karena rombongan, kami harus lewat pintu depan dan harus sudah teregister. Ah elah rempong amat. Tiba-tiba ada yang nyaut, “Nggak tau apa yah, ada raja minyak sama raja properti mau ngeborong isi Lafayette?”. Aduh ngeri banget om. Ampun ndoro 😆

Saya pribadi udah nggak niat belanja. Cuma mau makan Ben & Jerry’s yang dijual di seberang pintu samping Lafayette *tapi nggak keburu*. Dan maap-maap yak kalo norak, baru kali ini ngeliat orang ngeborong (kayaknya Indonesia juga) Louis Vitton sampai tas bawaannya lebih dari 10 — dia nggak sendiri, partner-nya juga bawa tas dengan jumlah yang sama. Mungkin buat open PO, tapi ngeri yak, itu duit apa daon kelor yang dipake buat bayar? 😆 Btw, pelayanan di brand premium kayak LV ini sistemnya satu customer satu sales, dan harus waiting list sis. Nggak bisa seenake dewek masuk nyelonong tanya harga.

…..to be continued

4 thoughts on “Euro Trip Day 5: Strolling Around The Heart of Paris”

  1. jadi penjual souvenir nya bisa ngomong indo ya? hebat juga ya.. 🙂

    btw kalo 1EUR dapet 5 gantungan kunci, murah dong ya… masih ditawar pula. huahahhaa

    1. Hehe karena udah kebanyakan Indonesia kayaknya yang ke Eropa, jadi mereka belajar bahasa kita. Itungannya juga murah kalo 1 Euro dapet lima biji gantungan kunci 😀

  2. yampuuuuun aku dulu juga ketemu tuuhh yang jual gantungan kunci 5 biji satu euro, saking ini muka keliatan banget Endonesa-nya yaahh. Tapi aku bukannya beli malah bengong amazed gitu dia bisa bahasa Indo 😀

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s