Subang Bound: Sunrise Catcher & Tea Garden Trekking

Akhirnya kejadian juga trip ke Subang, setelah sekian banyak tektok dan juga urusan. Harusnya Subang ini kejadian sebulan setelah trip Bandung kemarin. Tapi yasudah, yang penting ujungnya kejadian. Dari total 15 orang isi grup BKB, yang confirmed ikut hanya 10 orang. In the end, 1 orang gugur karena tiba-tiba nenek tercintanya datang dari Balikpapan. Haha alright.. The show must go on, and here we are, hitting the road…..

Nggak seperti trip Bandung kemarin, kali ini kami berangkat lebih awal yaitu jam 8 malam di Jumat malam, biarpun sebenernya udah tau akan kena macet di Cikampek. Tapi ini bikin nganga banget sih, karena macetnya selalu di titik yang sama — KM 19 dan KM 39. Penyebabnya nggak lain adalah padatnya kendaraan pasca jam kerja, perbaikan jalan, sama satu lagi — truk-truk besar lagi banyak banget yang melintas. Dan akhirnya kami berenti dulu di KM 19, grabbing our coffees and snacks.

Perjalanan kali ini sedikit lebih jauh dari ke Bandung. Etapi nggak tau lebih jauh apa nggak juga sih hehe, karena kami belum pernah aja kali ya ke Subang. Memori saya tentang perjalanan ke Subang dulu sudah hilang entah kemana. Dan juga perjalanan ini lancar karena tol Cipali yang baru saja diselesaikan. We touched down the gate of Subang tol at 12.00 am sharp. And we made our way to the place called Tea Garden Resort for about 1,5 hours. Jam 12 malem, what kind of view would you expect? Jalanan gelap segelap-gelapnya dan beberapa pohon rindang juga menutupi langit. Hati-hati banget ya yang mau melintas jalanan ini, karena ada beberapa warga setempat yang lalu lalang dan nggak menyalakan lampu kendarannya. Jujur saya nggak tau pasti sih, mereka ‘napak’ apa nggak. Creepy, isn’t it?

Singkat cerita, kalo mau ke Tea Garden Resort ini, ikuti jalan yang menuju pemandian air panas Sari Ater. Yaa kalo nggak mau ribet, di aplikasi Waze juga ada. Tapi begitu ketemu perempatan yang mana kalo belok ke kiri itu ke Sari Ater, yang ini belok kanan aja langsung, masuk ke daerah perumahan yang pinggirannya kebon teh. Dan udara udah mulai dingin, so we decided to turn off air conditioner and enjoyed it. But still, gelap banget, you’d barely see anything. Makin ke dalam makin sempit jalanannya, hanya cukup satu mobil. Jadi bisa ngebayangin kan, kalo ada mobil dari arah berlawanan, salah satu harus ada yang mengalah. Selain sempit, jalanannya juga nggak sempurna, beberapa masih tanah merah dan bebatuan. Dan udah tinggal jarakΒ Β± 500 meter, tiba-tiba…..

DIPORTAL GEMBOK!

Dan makin masuk ke dalam, makin susah sinyalnya. Udah gitu, nomor yang kita mau hubungin nggak aktif. Lah trus gimana? Nungguin aja gitu sampe matahari terbit? πŸ˜† Setelah susah payah cari sinyal, akhirnya mamangnya dateng, setelah kami menunggu kurang lebih 30 menit. Mungkin jarak kesananya masih jauh banget. Dan emang jauh sih, but it’s all worth the journey. Kami sudah reserved tempat 2-3 minggu sebelumnya, pakai tipe Deluxe Family. Dan paketnya bisa milih dengan atau tanpa breakfast/dinner. Berhubung kami sudah prepare, jadi nggak perlu tambahan dinner. Untuk reserve tempat ini pakai pegipegi.com yang sistemnya bayar pake hotel voucher. Yah, susah-susah di awal berbuah menyenangkan ketika kami menginjakan kaki di cottage…..

Jam sudah menunjukan pukul 3 pagi tapi belum ada tanda-tanda mengantuk. Padahal saya pribadi sendiri hanya tidur 4 jam di Kamis malam, dan harus berangkat pagi-pagi supaya bisa dapet parkir mumpuni di kantor. Jam 3 pagi dan mata masih terang benderang, buka snack yang tadi kami beli, ada yang masak mie instan, sampai bikin ‘wedang’. Dan sesi curhat pun dimulai…..

The best part of the night was we didn’t realize that it’s already morning. Ceritanya panjang banget, dan bahkan saya pun nggak kebagian waktu untuk cerita. Mau dibuat sesi khusus di jam makan siang katanya hahaha. Niatnya mau tidur langsung pas jam 6, but we couldn’t let the sunrise passed just like that. Akhirnya keluar cottage semuanya, dan beredar di rooftop sembari menikmati sejuknya udara pagi. Life’s good indeed…..

I wonder who designed these cottages, the constructions are just simply natural. Nggak perlu bentuk yang aneh-aneh, buat rumah dengan design seperti ini juga udah sempurna banget buat saya, yang penting ada rooftoop πŸ˜€ Dan ternyata tempat ini sudah berdiri sejak 7 tahun lalu. Such a hidden gem in the middle of the tea garden. Subhanallah…..

Dan nggak tau idenya siapa, daripada tidur mendingan trekking ke kebon teh. Kebetulan dari resortnya sendiri difasilitasi gratis kalo ada yang mau trekking di kebon teh. Badan emang rasanya capek sih, tapi entah kenapa mata ini terang seterang-terangnya. And we’re off to the tea garden…..

…..and ended up at Curug Capolaga.

Trekking selama kurang lebih 1,5 jam dan keringatnya sama kayak sepedaan 10km. Balik ke cottage nya nggak mungkin jalan kaki, mobil jemputan udah nunggu di deket area air terjun. Jam 9 pagi, belum tidur, sarapan (makan mie instan jam 3 pagi nggak diitung sarapan ya), apalagi mandi. Urutannya sarapan dulu, abis itu mandi, abis itu tidur sampe nanti waktu makan siang. Tapi apa yang terjadi? I couldn’t close my eyes properly, badan rasanya agak nggak enak. Apa boleh buat, akhirnya bangun saja dan siap-siap buat makan siang dan packing untuk pulang.

We only stayed like 12 hours here, trus kayaknya kasur-kasur yang ada dianggurin banget. Saya sendiri hanya tidur kurang dari 2 jam, dan sepertinya perjalanan pulang ini akan terasa berat karena saya harus terjaga, siapa tau si teman mau gantian nyupir. I should’ve slept on our way back home, but these eyes won’t do that. Apalagi sesi curhat dilanjutkan sepanjang perjalanan, kelar udah. Hujan deras, lagu sendu, cerita hidup yang pelik, a perfect Saturday to spend with all your troops.Β Arrived at Jakarta 8 pm, and I continued to go home, really need a very powerful nap.

Psst.. Psst.. Kemarin kami dapat voucher diskon 50% untuk kunjungan selanjutnya. Nggak pake diskon juga kami tetep balik lagi kok hihihi..

Highlight of this journey: we just made 2016 resolutions. Ada yang akan menikah tahun depan, ada yang mau membangun hidup yang mapan, dan ada juga yang berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. And we are really looking forward to it πŸ™‚

See you on our next journey, next year!

21 thoughts on “Subang Bound: Sunrise Catcher & Tea Garden Trekking”

  1. Bisa yaa dengan jam tidur seminim itu tapi tetap on, Mbak :hehe. Doh kalau saya mungkin paginya pasti tepar lebih dulu :hihi. Tapi ini retreat yang bagus. Subang selama ini saya duga cuma bagian dari Pantura yang panas–tak pernah saya kira ada tempat yang bagus dan adem seperti ini. Di sana kegiatan yang bisa dilakukan juga bervariasi, dan positif juga, paling tidak jadi kenangan indah buat semua. Moga-moga semua resolusinya bisa cepat jadi nyata yaa…

    1. Gara, ini udah capek sebenernya, tapi karena barengan sama temen-temen jadi capeknya nggak berasa. Subang yang ini lumayan dingin, soalnya deket sama Tangkuban Perahu hehe..

  2. ah parah ini sih warbiasah , laut tanpa kalian apalah artinya… itulah gw kmaren , kadar judes gw naeeek huhuhu rasanya pengen terbang tiba2 ada disana gituh , indah banget ini kayaknya tempat ya nad huhuhu

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s