Belajar Harmonisasi di Wot Batu

Dari semua agenda di Bandung minggu lalu, Wot Batu ini jadi salah satu tempat favorit saya. Kenapa? Selain tempat yang minimalis dan artsy, ternyata di dalam Wot Batu kita bisa dapat banyak filosofi hidup yang digambarkan oleh Pak Sunaryo. Siapa sih Pak Sunaryo ini? Bagi pecinta seni kontemporer, pasti nama itu sudah tidak asing lagi, apalagi yang suka datang ke Selasar Sunaryo atau sekedar duduk-duduk di Kopi Selasar. Saya pribadi pernah bertemu dengan Pak Sunaryo di Pameran Segar, di Dia.Lo.Gue Artspace Kemang setahun yang lalu. Pamerannya sendiri waktu itu diadakan untuk mendukung pemilihan ketua IAI yang baru. Hahaha mulai deh memori arsitekturnya tenkky berbicara. Anyway, intinya Pak Sunaryo ini adalah owner dari Selasar Sunaryo, museum sekaligus artspace yang dibangun di daerah Dago. Dan saya pingin banget kesana tapi belum pernah kesampaian *dan di liburan ini akhirnya kesampaian juga, yay!*. Sebenernya, pas sampai di Wot Batu, saya juga baru tau kalo tempat ini ternyata kepunyaan Pak Sunaryo 😀 

Begitu kami parkir di pinggiran area Wot Batu, nggak lama kami didatangi security. Ditanya tujuannya mau apa, karena kebetulan di dalam lagi ada interview dengan Pak Sunaryo. Kami masih bisa masuk kok, tetapi belum ada guide yang available karena masih sibuk dengan interview. Tapi kami masih bisa lihat-lihat, dan tentunya ada biaya masuk, per orang dikenakan Rp 50,000. Dan juga ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi seperti tidak boleh foto selain menggunakan handphone *bye bye bye hunting hiks hiks*, tidak boleh menginjak area rumput, dan tidak boleh buang sampah sembarangan. Yaudah, kami keliling dulu aja sendiri, sambil lihat-lihat, what’s so special about this place.

Kalo muter-muter sendiri begini, nggak akan merasa apa-apa. Kami pun merasa seperti, “Oh cuma begini aja tempatnya”. Nggak lama hujan mulai turun, tapi kami juga masih penasaran sama tempat ini dan memutuskan untuk menunggu guide sambil menyantap teh rosela yang ternyata hasil racikan Pak Sunaryo — sambil colongan bobok-bobok siang 😀

Akhirnya ada mbak yang memandu kami, kalo saya nggak salah ingat namanya mbak Dini. Asal mula Wot Batu ini juga diceritakan dari pintu masuk.

Berikut info singkat tentang Wot Batu, diambil dari web-nya 🙂

Wot Batu is a configuration of energy which occurs from Sunaryo’s spiritual and transcedental journey. In an ± 2000 m² open space with 135 +1 stones which are conceptually and harmoniously planted and laid out in it. Sunaryo withdraws a line of the mountains surrounding Bandung, and from that line he brought volcanic stones that became a medium of a timeless masterpiece. Every carvings, inlays and fragments were not intended to change the stones, yet to incised a note of a civilization — a legacy from the 21st century for generations to come.

Sunaryo created Wot Batu to be a spiritual ‘bridge’ : to be the balance between the human soul with the physical manifestations of life, also to be a link of the four elements of nature. In Wot Batu, earth, fire, water and wind to communicate with each other in harmony. Wot Batu brings the ideas of space and time — an awareness on human existence in an infinite dimension of nature.

Saya nggak bisa menjelaskan detail-detail dari setiap installment yang ada di Wot Batu, karena tiap-tiap sudut memiliki filosofinya sendiri — termasuk dari pintu masuknya. “Jika mau menikmati keindahan maka harus melewati jalan yang sempit dan sulit”. Datang dan rasakan sendiri keindahan taman batu ini. Kebanyakan batu-batu ini diambil di tanah Jawa, ada juga yang diambil dari luar Indonesia. Beberapa kerabat Pak Sunaryo yang mengetahui bapak akan membuat taman batu ini, ikutan menyumbang beberapa batu. Pengerjaan batunya juga diawasi sendiri oleh Pak Sunaryo. Dan alasan Pak Sunaryo menggunakan batu sebagai medium adalah karena sifatnya yang timeless. Tau banget dong Stonehenge di UK? Dan juga situs batu di Gunung Padang? Dari jaman kapan tau bentuknya masih gitu-gitu aja kan? Hehe, so that’s why. Sungguh ini pengalaman yang menyenangkan sekali. Saya pribadi merasa isi kepala penuh filosofi tentang kehidupan yang digambarkan oleh Pak Sunaryo. Subhanallah..

Di bawah ini adalah spot favorit saya di Wot Batu, namanya Batu Merenung, karena jika duduk disini, semua sudut dari Wot Batu bisa terlihat 😀

Kalo diperhatikan, di beberapa batu ada carving menyerupai sidik jari. Dan memang itu adalah sidik jari dari Pak Sunaryo sendiri. Keren banget kan :O

Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke…

Ada masa lalu ada masa kini, bila tidak ada masa lalu tidak ada masa kini…

Dan bongkahan batu dibawah ini nih, yang ada roda-rodanya, digerakan dengan tenaga solar panel. Keren banget kan kan kan? :O

Dan ini yang paling bikin saya takjub. Di beberapa sudut batu, Pak Sunaryo menggambarkan beberapa agama di dunia. Ada mushola di dalam Wot Batu yang digambarkan sebagai simbol dari Islam dan juga ada tumpukan 10 batu yang digambarkan sebagai Sepuluh Perintah Allah dalam Nasrani. Sama ada pohon Bodhi sebagai simbol dari agama Budha. Dan ini yang paling menarik. Di dalam mushola Wot Batu, ada ukiran surat Al Fatihah di atas kaca, dan juga kalo diperhatikan ada batu hitam kecil yang mana batu itu diambil dari Gua Hira, tempat Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertama. Saya yakin pasti perjuangannya Pak Sunaryo buat ambil sebongkah batu kecil ini mati-matian banget, harus melewati perizinan di Arab yang berbelit-belit. Salut banget saya Pak, salut!!! *bow down*

Kalo hendak ke Wot Batu, jangan hanya keliling dan foto-foto. Harus dengerin banget cerita dari guide-nya, resapi dan pahami. Keluar dari Wot Batu, saya merasa nggak ada apa-apanya karena semesta ini begitu besar. Dan sebesar-besarnya semesta, yang Maha Besar hanyalah sang Pencipta 🙂

 All photos credited by me, Nadya & Fika

13 thoughts on “Belajar Harmonisasi di Wot Batu”

  1. Waaahh keren banget! Aku baru tau soal ini Nad, jadi langsung pengen jalan2 ke Bandung yg lebih bermanfaat.. hahahaa terakhir ke Bandung mah makan doang isinya :)))))))))

  2. saya baru tahu ini ada Wot Batu. 😀 Wajib banget ini dikunjungi kalau ada waktu ke Bandung. Bagus tempatnya dan kalau bisa memahami maksud masing- masing batu, bisa jadi wisata jiwa juga ya mbak. 🙂

    1. Hi Affi *can I call you that?*

      Iya, menurutku Wot Batu wajib dikunjungi kalo ke Bandung hehehe, aku disuruh balik lagi kesana juga mau-mau aja kayaknya 😀

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s